Senin, 29 Agustus 2016

Ayahmu, Lelaki Pencemburu

Hei, anak bungsu perempuanku yang selalu ingin dipanggil "Adek".

Kamu harus tahu satu hal yang mungkin kamu lupakan ketika kamu mengenal cinta lawan jenis. Bukan lelakimu seseorang yang paling mencemburuimu, melainkan aku--ayahmu.

Ayahmu adalah lelaki pencemburu yang merasa iri kasih sayangmu perlahan teralihkan untuk lelaki lain yang hadir baru sebentar saja di hidup dan hatimu.

Waktu seumpama makhluk indah yang mengecoh manusia perihal perubahan. Adakalanya waktu membawa perubahan secara perlahan-lahan, hingga tanpa sadar aku tidak menyadari perubahan kehidupan ini.

Aku terlalu takut menyadari kamu tumbuh dewasa, menikmati cinta dari lelaki selain aku, lalu memintaku untuk menikahkanmu dengannya. Sungguh, aku terlalu takut.


Rabu, 17 Agustus 2016

Ini Alasan Mengapa Masa Kecilmu Merupakan Harta Berhargamu




Semenyakitkan apa pun masa lalumu, ia akan tetap menjadi harta berharga. Ibarat teratai merekah yang akarnya justru menghujam di kedalaman lumpur. Ibarat lapis-lapis emas yang ditambang dengan cara yang menyakitkan.

Salah satu masa lalu yang paling berharga tentu saja masa kecil. Tidak dapat dipungkuri, kebahagiaan masa kecil sering sekali menjadi patokan untuk kebahagiaan masa kehidupan selanjutnya seseorang. Lalu, bagaimana jika kehidupan masa kecil penuh dengan kesuraman? Jangan bersedih. Masa kecilmu yang penuh kesuraman juga bisa menjadi harta berhargamu, terkhusus untuk orang-orang yang bergelut di dunia kepenulisan. Ini alasan mengapa apa pun yang terjadi kamu tidak boleh melupakan masa kecilmu.

Senin, 15 Agustus 2016

Perangko yang Berusaha Mengecoh Takdir







Senyuman manis ala gigi kelinci milik Marina tidak memiliki maksud berbahagia di atas penderitaan kekasihnya. Marina tidak tahu dan bahkan tidak akan pernah menyangka hujan akan membuat kekasihnya yang bernama Franko merasa menderita. Marina hanya senang Tuhan telah bekerja sama bersama hujan untuk mendudukkan lelaki bermata hitam pekat itu di hadapannya.


Franko merenggangkan dasi, lalu meminum kopi dengan perasaan frustrasi. Tegukan kopi membuat leher Franko menampilkan gerakan jakun yang sangat seksi.


"Franko Sayang, sudahlah nikmati saja suasana syahdu sore ini. Mengharapkan sinyal di cuaca begini hanya akan membuatmu kesal. Lagi pula, kamu butuh momen yang tanpa sinyal saat bersamaku." Marina berceloteh ringan tanpa malu diikuti gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti ada musik bermelodi ceria yang terus berputar di dalam kepalanya.


Jika Tuhan dan hujan tidak bekerja sama, kemungkinan Marina akan sulit menikmati sisi keindahan lelaki berjakun terseksi itu di kafe miliknya yang dinamai Mi Seksi.

Sabtu, 30 Juli 2016

Rindu yang Tak Masuk Akal





Beberapa hari lagi kamu akan pergi. Kembali menjadi perantau di tempat yang tidak boleh dianggap asing.

Kamu akan merantau ke kota sana, dan aku merantau di sini. Kita sama-sama akan menjadi perantau di tempat yang sebenarnya tidak boleh kita anggap asing.





Kita harus beradaptasi, menjadikan keasingan jadi sebuah kebiasaan yang membuat pekerjaan kita di tanah rantau bisa dijalani dengan nyaman.

Tempat yang tidak boleh dianggap asing.
Begitulah aku menganggap kamu. Aku dan kamu mungkin tidak menjadi siapa-siapa. Bahkan, untuk menyebutkan kata "kita" aku  harus bersembunyi-sembunyi di ruang kata yang sepi pengunjung ini.

Anggap saja aku sedang merantau di hidupmu. Kutelusuri lekuk dadamu yang menghangatkan kehidupan di sana. Ya. Aku sedang merantau di hidupmu. Anggap saja begitu. Aku merantau di hidupmu, tapi tak pernah kuanggap kamu asing. Seperti aku tak pernah menganggap kota ini asing.

Selasa, 24 Mei 2016

Jatuh Cinta Awalnya Sederhana




Kenangan memanglah indah, tapi sisi tersembunyinya membentang jurang yang akan menciptakan luka parah. Hal sesederhana inilah yang saya tawarkan dalam novel kedua “Jatuh Cinta Awalnya Sederhana”.



Kenangan menjadi kaki tangan takdir untuk menguji manusia. Akankah manusia bisa menerima dengan lapang dada kepergian seseorang, ketika kenangan memenuhi benaknya? Akankah manusia bisa memilih orang yang benar-benar ada untuknya meski orang di masa lalu jauh lebih baik karena diindahkan oleh kenangan? Akankah manusia berani memperjuangkan seseorang ketika kenangan telah menyadarkan?



Jatuh Cinta Awalnya Sederhana mengeksplorasi kebimbangan manusia ketika kenangan mulai memenuhi pikiran. Tokoh-tokohnya ada yang berhasil menjadi sangat baik, tetapi justru tersakiti, ada yang berhasil menjadi berengsek, tapi tidak juga mendapat kebahagiaan yang diinginkannya.



Identitas buku dan sinopsis Jatuh Cinta Awalnya Sederhana berikut ini, semoga menjadi Panduan Jatuh Cinta untuk kalian yang ingin merayakan kesederhanaan cinta melalui novel Jatuh Cinta Awalnya Sederhana.



Identitas buku:


Judul : Jatuh Cinta Awalnya Sederhana
Pengarang Cover : Anggrek Lestari
Format Cover : Soft Cover
Editor : Pradita Seti Rahayu
ISBN Lengkap : 9786020286617
Ukuran : 12.5 X 19.5
Harga : Rp. 74,800
Tanggal Terbit : 23-Mei-2016
Tebal : 384 Hlm
Target Pengguna : Dewasa



Sinopsis:

Franko
Untuk apa aku menunjukkan perasaan jika akhirnya harus ditinggalkan?

Marina
Aku hanya dijadikan pengecoh takdir oleh seorang lelaku yang ingin kembali dengan mantannya, lalu lelaki itu mengantarku pada seseorang di masa laluku juga. Haruskah aku kembali pada lelaki masa lalu, yang menghadirkan begitu banyak cinta baru? Bukankah menerima kembali berarti rela terluka lagi?

Rij
Aku cinta dia tapi tak berani berkomitmen. Aku tak berani berkomitmen tapi tak mau melepasnya. Bukankah berkomitmen ketika belum siap hanya akan merusak hubungan?

Ini kisah cinta yang sederhana tapi terumitkan oleh hadirnya ketakutan. Jatuh cinta itu awalnya memang sederhana, tapi lama-kelamaan akan rumit karena dua manusia yang saling jatuh cinta punya segudang aturan untuk menjaga image agar tidak terlihat kacau disebabkan cinta, padahal memang pikiran mereka telah terkacaukan cinta yang sering dihindari karena mereka takut terluka.




Siapakah yang pada akhirnya mampu melawan rasa takutnya dan membangun cinta yang memang tidak hanya berisi bahagia tetapi juga luka?

Kebencian ada karena ketakutan. Hanya cinta yang mampu menyembuhkan.

Rabu, 23 Maret 2016

ALASAN MENGAPA KITA TERKECOH KEBERADAAN HAL YANG KITA CARI



Sering sekali sudah jauh-jauh kita mencari, ternyata apa yang telah kita cari berada sangat dekat dengan kita. Benarkan? Sering kita menyadari hal itu ketika kita sudah lelah melalui perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita cari, eh ternyata tanpa terduga seperti datang sendiri apa yang kita cari itu. Contoh mudahnya nih ya, kamu jatuh bangun mengejar gebetan, ujung-ujungnya jadian sama sahabat kamu yang tiap hari udah “nempel” sama kamu. Atau gini nih, kita buru-buru mencari barang, sewaktu kita udah kecapean, besok-besok enggak cari lagi, eh barang yang kita cari itu ternyata terselip di dalam tas. Beuh, pasti menyebalkan yah.

Terkadang karena alasan seperti yang saya tuliskan tadi, banyak orang yang menjadikan itu alibi untuk malas mencari dengan bilang begini nih, “udah ah enggak usah dicari, nanti kan datang sendiri” (baca: cari pasangan).



Oh ya, pernah enggak kamu berpikir mengapa kamu sering terkecoh keberadaan hal yang kamu cari? Coba kita lihat inilah alasannya. Chek this out, Penikmat Kata.

1. Supaya kita enggak malas berusaha

Ketidakpastian hidup ini membuat kita rajin berusaha. Bayangkan saja kalau kita sudah tahu besok PASTI akan jadi orang kaya, kita enggak akan berusaha, duduk-duduk santai saja. Karena enggak ada yang pasti, kita pun sibuk mencari.

2. Supaya kita menghargai apa yang kita punya

Hayo siapa di sini yang suka mencari apa yang sudah habis? (saya ngaku deh) Dalam hal makanan saya sering sekali begini nih, kalau makanannya sudah habis baru deh saya cari, kalau masih banyak, dibiarkan enggak mau makan (lah kok malah bahas makanan?)

Sering sekali memang ketika apa yang kita cari berada di dekat kita, kita kembali untuk meraih itu, yang sayangnya sudah tidak ada lagi. kita akhirnya menyesal. Itu jadi pelajaran untuk kita agar kita lebih peka terhadap hal-hal yang sudah kita miliki. Sudahkah kamu bersyukur sebelum kamu mencari yang lebih lagi?

Minggu, 22 November 2015

PANGGILAN TAK TERJAWAB


Entah hubungan kalian yang mulai tidak sehat, atau perasaan kamu yang mulai bosan dengan dia sehingga hubungan kalian butuh rehat. Panggilan-panggilan telepon darinya yang dilakukannya setiap hari bagimu tidaklah tepat, sebab kalian berhubungan jarak dekat. Kamu mulai tidak suka telepon darinya yang membuatmu diperlakukan seperti tahanan yang harus diawasi setiap saat.

Dia tidak pernah beranggapan menjadikanmu tahanan yang harus diawasi setiap saat. Dia tidak mengerti di bagian mana yang selalu kamu sebut tidak tepat, padahal dia hanya menelepon di jam-jam para pekerja biasanya sedang rehat. Hubungan kalian memanglah berjarak dekat, tetapi menurutnya itu tidak menjadi alasan untuk komunikasi kalian boleh tersendat. Apalagi akhir-akhir ini menurutnya, kamu selalu bekerja tidak kenal waktu hingga memperhatikan orang yang dicintai saja tidak sempat, walau hanya sesaat. Dia merasa hubungan kalian memang mulai tidak sehat.

Photo: Hubungan Merenggang,
Sumber: breaktime

Kamu tidak mengerti terbuat dari apa seorang perempuan yang selalu saja berpikiran rumit dan menyalahkan lelaki. Perihal panggilan telepon yang tidak terjawab olehmu saja bisa membuat dia mengomel kesal tidak henti-henti, seperti sedang menagih hutang pada teman yang sebenarnya tidak akan mungkin lagi bisa kembali.

Dia tidak mengerti terbuat dari apa seorang lelaki yang selalu saja berpikiran cuek dan menuduh perempuan sebagai makhluk penuh drama. Perihal panggilan teleponnya untuk mengetahui bahwa kamu baik-baik saja, malah dianggap sebagai tindakan rasa tidak percaya. Padahal, bukan dia tidak percaya, dia hanya khawatir tentang kesehatanmu yang selalu mengambil pekerjaan melebihi batas waktu para pekerja.

“Kamu ini enggak rindu aku ya? Sekarang susah sekali ditelepon atau ketemuan. Kalau enggak aku telepon duluan, kamu enggak mau menelepon duluan dengan alasan kamu tidak punya waktu karena sibuk bekerja. Semakin hari aku merasa enggak lebih penting dari pekerjaanmu,” omelnya suatu kali melalui telepon.

“Sayang, bukannya kamu itu tidak penting. Kamu itu penting untukku dan pekerjaan juga penting. Yang penting kamu kan udah tahu kalau aku tuh sepenuhnya punya kamu dan aku mencintai kamu titik enggak pakai koma,” kamu membela diri sambil terkantuk-kantuk karena suara omelan perempuan memang selalu memiliki efek samping menyebabkan kantuk serupa efek samping obat batuk.

“Oh jadi begitu ya, mentang-mentang kamu udah berhasil memilikiku, lalu kamu mau mendiamkanku begini saja dengan embel-embel yang penting kamu mencintaiku, hah? Jadi buat apa aku ada kalau enggak pernah dianggap ada buat kamu?” kali ini dia mengomel bukan untuk tidak ditanggapi, seperti omelan perempuan pada umumnya yang hanya untuk mencari simpati. Kali ini benar-benar dia butuh ditanggapi, karena permasalahan hubungan kalian sudah tidak bisa ditolelir lagi.

Rabu, 18 November 2015

BERCINTA TIDAK SAMA DENGAN MEMBUAT ANAK

Sisi lain dari cinta yang paling tersembunyi dan lebih tepatnya disembunyikan lapis ketulusan cinta, adalah “mempertahankan kelangsungan hidup” dengan kata kasarnya “membuat anak” dan kata lembutnya "melahirkan keturunan". Mengapa seseorang ingin memiliki pasangan yang saling mencintai? Alasan utamanya agar bisa saling berbagi dan saling menemani, kemudian menciptakan keturunan yang akan mengingatnya dan mengawarisi segala hal yang seseorang itu punya. Sebab kembali lagi pada dugaan dasar, semua manusia ingin diingat peradabannya entah itu oleh keturunannya sendiri atau orang lain.




Permasalahan yang saya bicarakan di sini adalah tidak semua orang siap bercinta dalam segala tanda kutipnya, telah siap untuk memiliki keturunan dan merawat keturunannya dengan semaksimal mungkin, terutama yang masih berusia muda tapi sudah memutuskan untuk menikah atau yang memutuskan untuk bercinta tapi tidak menikah.

Yang enak-enak pasti punya dampak negatif jika tidak dilakukan dengan persiapan yang baik dan benar, serta tentunya pikiran yang waras (dalam tulisan ini hanya dibahas tentang bercinta, memangnya siapa yang bisa menyangkal kalau bercinta itu tidak enak?). Itu pula sebabnya yang enak-enak pasti dilarang oleh agama. :)

Perkembangan teknologi yang pesat membuat generasi muda dengan cepat mampu menyerap segala informasi bahkan tanpa disaring terlebih dahulu. Generasi era teknologi ini biasanya akan mudah mencontoh tindakan melalui berbagai media tanpa memikirkan realitanya. Contoh sederhananya saja, generasi muda ingin cepat sukses dengan cara yang instan karena terlalu sering dijejali public figure yang mengumbar kekayaannya di berbagai media. Contoh lainnya, generasi muda juga beranggapan cinta semudah jalan cerita FTV dan beranggapan enaknya bercinta itu sama seperti cerita-cerita dewasa yang bertebaran di internet. Ya namanya juga anak muda, ditambah lagi generasi era teknologi, tidak mau memikirkan efek negatif, cuma tahu yang enak-enak, pergi minta duit, pulang lempar baju kotor. See?

Sungguh miris melihat orang-orang yang sangat, sangat susah menahan nafsu, tapi sangat, sangat, sangat, dungu sekali dalam hal pengetahuan seksnya. Ini bukan tentang mencampuri urusan orang lain, tapi tentang kepedulian (ketidakpedulian dan tidak mau mencampuri urusan orang lain itu bedanya tipis. Hati-hati). Berapa banyak anak yang terlahir dengan tidak terencana alias kecelakaan? Tidak perlu saya beritahu, Anda pun sudah tahu.

Seenaknya saja bercinta tanpa memikirkan segala keamanan agar tidak kecelakaan, sok-sokan seolah jadi pembalap yang “enggak keluar” di jalur tidak aman, eh malah akhirnya keluar juga di jalur tidak aman dan terjadilah kecelakaan. Yang perempuan juga dungu mau-mau saja enggak pakai pengaman, berharap kalau udah kecelakaan, bisa bilang gini “Mas, tanggung jawab Mas.” Ngooook. Apa yang mau dipakai untuk bertanggung jawab kalau uang makan saja masih minta sama ortu? Ujung-ujungnya cari cara buat menggugurkan, atau kalau sudah lahir anaknya dibuang.

Khusus di Indonesia yang norma agamanya begitu tinggi, jelas saja kamu enggak bisa seenaknya punya anak tapi seorang suami, kalau di luar negeri sana, masa bodoh. Ya sudah sana silakan pindah negara atau sekalian pindah ke planet Mars kalau mau memikirkan enak-enaknya.

Jangan-jangan di masa depan, berdiri sebuah negara bernama “Generasi Kecelakaan” yang lahir tanpa dimau dan direncakan. Sedih melihat anak-anak yang seperti itu bukan karena kemauannya. Si anak pun tidak mau jika dia dilahirkan hanya untuk dibuang.

Nah, demi generasi yang terjaga dari “Generasi Kecelakaan” sebaiknya perluas pengetahuan tentang seks dan pintar melihat realita, jangan suka tenggalam dalam ilusi kemudahan hidup. Bercinta tidak sama dengan membuat anak dan bercinta sehat itu sangat penting. Tapi, kalau kalian sudah siap membangun keluarga baru, rencanakanlah tentang kelahiran anak sebaik mungkin dan jangan lupa membuatnya pakai doa ya. Doa sesuai agama masing-masing biar si anak kalau sudah besar kerjaan enggak suka bikin onar. (lah kok malah saya ceramah kayak ustadzah gini yak? Maafkan saya saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang kucintai :* )

Karena anak terlahir untuk disayang, bukan untuk dibuang, selamat memahami makna “bercinta tidak sama dengan membuat anak”.



Selamat menikmati cinta yang sehat dan terencana,


Salam berbagi,

Jumat, 30 Oktober 2015

Apa Lagi yang Tersisa Selain Hanya Cinta?


photo by vemale.com


Bagian tersakit dari mencintai adalah berhenti diperjuangkan meskipun kamu sudah mati-matian berjuang untuk dia. Kamu berjuang mati-matian tapi tidak bisa mendapatkannya.

Beberapa orang gelap mata terus-terusan menjadi Pejuang Cinta cinta padahal perjuangan sudah bersifat satu arah alias tidak lagi dianggap. Tapi, ada beberapa orang yang saling memperjuangkan, tak punya apa-apa, yang mereka punya hanya cinta.

Mereka yang saling berjuang, tak punya apa-apa hingga yang tersisa hanyalah cinta, membuat kisah mereka menjadi mengharukan. Berikut ini ada sebuah kisah yang diambil dari novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis karya Paulo Coelho sukses mengaduk-aduk hati. Duh. Chek this out, Penikmat Cerita.

***
Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati. Mereka memutuskan untuk bertunangan. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah.

Anak laki-laki itu sangat miskin—miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisi dari kakeknya. Ketika ia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, ia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.

Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Ia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang didapat, ia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.

Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tak lagi dimiliki kekasihnya.
***
Ini dia cover novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
photo by Anggrek Lestari



Bagaimana kisah tadi menurutmu? Cukup mengharukan? Atau, kamu punya kisah lain yang mengharukan?




Jumat, 09 Oktober 2015

Bijak Mengelola Keahlian


Terkadang suatu lingkungan yang sangat kontras dengan kehidupan kita membuat kita ‘terpaksa’ menyembunyikan keahlian untuk berada di zona aman agar tidak di bully. Kasus seperti ini sering terjadi dalam dunia sekolahan, ataupun perkuliahan. Misalnya saja anak yang miskin tidak berani menampilkan keahliannya karena takut dianggap sebagai saingan orang-orang yang berderejat sosial di atasnya yang menyebabkan si anak mendapat perlakuan kekerasan.

Apa memang menyembunyikan keahlian adalah cara terbijak di sebuah lingkungan yang memaksa kita? Saya rasa justru semakin kita menampilkan diri sebagai orang lemah, orang lain akan senang berkuasa terhadap diri kita dan tidak segan-segan mempermalukan diri kita. Karena itulah kita harus bijak mengelola keahlian kita di lingkungan sekitar dan tentunya harus berani mepertahankan apa yang kita anggap benar.

Kutipan cerita dari novel berikut ini memberikan kita pelajaran mengapa kita tetap harus menampilkan keahlian kita sebaik-baiknya kepada dunia. Chek this out, Penikmat cerita.



“Zaman dahulu kala, di suatu desa di lereng gunung, ada empat sekawan yang dipanggil dengan kelebihan mereka masing-masing, kecuali satu orang. Si Tinggi, si Cepat, si Suara Bagus. Anak keempat sebenarnya adalah anak paling pintar di antara keempatnya, tapi dia menyembunyikan kepandaiannya karena takut dicap sombong. Akhirnya, dia hanya terkenal sebagai sebutan ‘anak keempat’ saja.

Suatu ketika mereka bermain di gunung dan tanpa sadar melanggar larangan yang dibuat oleh penungggu gunung. Sebagai hukuman,oleh si penunggu gunung keempat anak itu disuruh tinggla di gunung sampai ada yang mengingat mereka. Padahal, penunggu gunung sudah menyihir penduduk desa agar lupa akan keempat anak itu. Tapi, lambat laun penduduk desa pun ingat. Setiap melihat gunung yang tinggi, penduduk desa ingat akan si Tinggi dan selamatlah dia. Setiap melihat rusa yang berlari cepat, penduduk desa ingat akan si Cepat dan selamatlah dia. Setiap mendengar nyanyian merdu burung-burung, penduduk desa ingat akan si Suara Bagus dan selamatlah dia. Tapi tidak dengan anak keempat. Tak ada satu pun hal yang membuat penduduk desa ingat akan ‘anak keempat’ hingga akhirnya anak itu meninggal dalam kesepian di gunung. Tidak ada yang mengingatnya. Dia menyesal kenapa dulu dia menyembunyikan kelebihannya sehingga orang-orang melupakannya. Dia akhirnya sadar, jika dilupakan, jika tidak diingat, berarti dia tidak pernah ada.”*
***

Catatan: kutipan diambil dari novel Seandainya karya Windhy Puspitadewi, terbitan GagasMedia, cetakan keempat 2013, halaman 43.